Kamis, 09 Desember 2010

TEORI BELAJAR



BAB I PENDAHULUAN

I.1    Latar Belakang

Berbicara mengenai teori belajar dan mengajar matematika berarti berbicara mengenai ”bagaimana” dan ”kepada siapa” suatu topik matematika diajarkan. Belajar dan mengajar merupakan dua kata yang berbeda, tetapi dalam pelaksanaaannya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Jika pada masa dulu konsep mengajar berarti guru menyampaikan semua pengetahuan matematika yang diketahuinya kepada siswa, tapi pada masa kini mengajar lebih diupayakan pada bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan guru sehingga siswa dapat belajar. Salah satu ciri pembelajaran matematika masa kini adalah penyajiannya didasarkan pada teori psikologi pembelajaran yang pada saat ini sedang populer dibicarakan oleh para pakar pendidikan (Suherman, 29).

Secara umum teori psikologi pembelajaran tersebut dapat dibagi atas dua aliran besar, yaitu:

1. Aliran psikologi tingkah laku
Tokoh teori belajar mengajar yang menganut aliran ini adalah:

1.    Thorndike (law of effect),
2.    Skinner (teori ganjaran atau penguatan),
3.    Ausubel (teori belajar bermakna dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai),
4.    Gagne (obyek matematika),
5.    Pavlov (teori belajar klasik),
6.    Baruda (siswa belajar itu meniru),
7.    Aliran latihan mental (struktur otak manusia terdiri atas gumpalan-gumpalan otot yang harus dilatih).


2. Aliran psikologi kognitif
Tokoh teori belajar mengajar yang menganut aliran ini adalah:

1.    Piaget (teori perkembangan mental; skemata, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrium),
2.    Bruner (teori belajar konsep dan struktur matematika),
3.    John Dewey (teori Gestalt),
4.    Brownell (belajar bermakna dan pengertian),
5.    Dienes (matematika adalah studi tentang struktur),
6.    Van Hiele (teori perkembangan mental anak dalam geometri).

       Kedua aliran teori psikologi pembelajaran di atas sejak keberadaannya sampai sekarang tetap menjadi acuan setiap pakar pendidikan untuk dikaji lebih jauh. Pengkajian juga dilakukan oleh para ahli pendidikan matematika dengan tujuan untuk meningkatkan berbagai kemampuan matematika siswa.

       I.2    Rumusan Masalah
a.    Apa pengertian belajar?
b.    Jelaskan teori-teori belajar secara umum!
c.    Jelaskan teori belajar matematika!

       I.3     Tujuan
Pembuatan makalah ini, bertujuan:
a.    Pendidik dan peserta didik dapat memahami makna belajar
b.    Memahami teori-teori belajar secara umum
c.    Mengetahui dan memahami teori belajar matematika
d.    Sebagai bahan pertimbangan bagi pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran matematika yang sesuai untuk peserta didik sehingga tujuan pembelajaran matematika tercapai.

      

BAB II PEMBAHASAN

Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. Nana Syaodih Sukmadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagian terbesar perkembangan individu berlangsung melalui kegiatan belajar. Lantas, apa sesungguhnya belajar itu ?
Di bawah ini disampaikan tentang pengertian belajar dari para ahli : 
Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. 
Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”. 
Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”. 
Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi” 
Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”. 
Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman”
Ciri utama belajar, yaitu: proses, perilaku, dan pengalaman, dengan pengertian sebagai berikut
1)    Proses
Belajar adalah proses mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabila pikiran dan perasaannya aktif. Aktifitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati orang lain, akan tetapi terasa oleh yang bersangkutan yang  dapat diamati guru adalah manifestasinya, yaitu kegiatan siswa sebagai akibat dari adanya aktifitas pikiran dan perasaan pada diri siswa tersebut.
2)    Perubahan Perilaku
Hasil belajar berupa perubahan perilaku atau tingkah laku seseorang yang belajar akan berubah atau bertambah perilakunya, baik yang berupa pengetahuan, ketrampilan, atau penguasaan nilai-nilai sikap.
3)    Pengalaman
Belajar adalah mengalami, dalam arti belajar terjadi di dalam interaksi antara individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan fisik, misalnya :buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan sosial, misalnya: guru, siswa pustakawan, dan Kepala Sekolah.
Belajar bisa melalui pengalaman langsung maupun melalui pengalaman tidak langsung. Belajar melalui pengalaman langsung, misalnya siswa belajar dengan melakukan sendiri dan pengalaman sendiri. Belajar melalui pengalaman tidak langsung, misalnya mengatahui dari membaca buku, mendengarkan penjelasan guru. Belajar dengan melalui pengalaman langsung hasilnya akan lebih baik karena siswa lebih memahami, lebih menguasai pelajaran tersebut, bahkan pelajaran terasa oleh siswa lebih bermakna.


Teori Belajar
Empat Jenis Teori Belajar, yaitu:
1.    Teori behaviorisme
2.    Teori belajar kognitif menurut Piaget
3.    Teori pemrosesan informasi dari Gagne
4.    Teori belajar gestalt

A.   Teori Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental.Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya: 
Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons. 
Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. 
Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.

2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov

Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
  1. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
  2. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya : 
Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat. 
Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.

4. Social Learning menurut Albert Bandura
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.

B.   Teori Belajar Kognitif menurut Piaget

Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan kognitif individu meliputi empat tahap yaitu :

a.    sensory motor
b.    pre operational
c.    concrete operational
d.    formal operational.


Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru.Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1.    Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2.    Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3.    Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4.    Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
5.    Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya. 

C.   Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,

a.    motivasi
b.    pemahaman
c.    pemerolehan
d.    penyimpanan
e.    ingatan kembali
f.     generalisasi
g.    perlakuan
h.    umpan balik.

D.   Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
1.    Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
2.    Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
3.    Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
4.    Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
5.    Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
6.    Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
1.    Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
2.    Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
3.    Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
4.    Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
1.    Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
2.    Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
3.    Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
4.    Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
5.    Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya. 

Teori Belajar Matematika

Teori-teori belajar Matematika dalam pembelajaran Matematika, banyak dikemukakan oleh para ahli Matematika, antara lain :

a.    Teori Belajar Bruner
Jeromi S.Bruner telah menulis hasil studinya tentang perkembangan belajar, yang merupakan suatu cara untuk mendevinisikan belajar. Bruner menekankan bahwa setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal peristiwa atau benda di dalam lingkungannya, menemukan cara untuk menyatakan kembali peristiwa atau benda tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa atau benda yang dialaminya atau dikenalnya.
Menurut Bruner hal-hal tersebut dapat dinyatakan sebagai proses belajar yang terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :
1.    Tahap Enaktif atau Tahap Kegiatan (Enactif)
Tahap pertama anak belajar konsep adalah berhubungan dengan benda-benda real atau mengalami peristiwa di dunia sekitarnya. Anak masih dalam gerak refleks dan coba-coba, memanipulasikan, menyusun, menjejerkan mengutak atik, dan bentuk-bentuk gerak lainnya.
2.    Tahap Ikonik atau Tahap Gambar Bayangan (Iconik)
Pada tahap ini anak telah mengubah, manandai, dan menyimpan peristiwa- peristiwa atau benda dalam bentuk bayangan mental.
3.    Tahap Simbolik (Symbolic)
Pada terakhir ini, anak dapat mengutarakan bayangan- bayangan mental tersebut dalam bentuk simbul dan bahasa.

b.    Teori Belajar Dienes
Teori belajar Matematika menurur Dienes ada enam tahapan, yaitu :
a.    Tahap 1. Bermain Bebas (Free Play) Pada tahap ini anak-anak bermain bebas tanpa diarahkan dengan menggunakan benda-banda Matematika kongkret.
b.    Tahap 2. Permainan (Games) anak mulai mengamati pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep melalui permainan, siswa diajak untuk mulai mengenal dan memikirkan struktur-struktur Matematika, untuk menolong anak bersifat logis dan matematis.
c.    Tahap 3. Penelaahan Kesamaan Sifat (Searching For Comunities) siswa mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan yang sedang diikuti.
d.    Tahap 4. Representasi (Reprecentation) siswa mulai belajar membuat pernyataan atau representasi tentang sifat-sifat kesamaan suatu konsep matematika yang diperoleh pada tahap penelaahan kesamaan sifat. Representasi bisa dalam bentuk gambar,diagram, atau verbal (dengan kata-kata atau ucapan)
e.    Tahap 5. Simbolik (Symbolic) siswa perlu menciptakan simbol matematika atau rumusan verbal yang  cocok untuk menyatakan konsep yang representasinya sudah diketahui pada tahap keempat. Simbol segitiga adalah ∆. Simbol angka satu  adalah 1, dan seterusnya.
f.     Tahap 6. Formalisasi (Formalitation) siswa belajar mengorganisasikan konsep-konsep mem,bentuk secara formal, dan harus sampai pada pemahaman aksioma, sifat, aturan, dalil sehingga menjadi struktur dari sistem yang dibahas.
c.    Teori Belajar Van Hiele
Teori belajar menurut Van Hiele ada lima tahapan, yaitu :
a.    Tahap 1. Pengenalan siswa mulai belajar mengenal suatu bangun geometri secara keseluruhan, tetapi ia belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bangun geometri yang dilihatnya itu.
b.    Tahap 2. Analisis siswa sudah mulai mengenal sifat-sifat yang dimiliki bangun geometri yang diamati.
c.    Tahap 3. Pengurutan siswa sudah mengenal dan memahami sifat-sifat suatu bangun geometri yang satu sama lainnya saling berhubungan.
d.    Tahap 4. deduktif siswa telah mampu menarik kesimpulan secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan yang bersifat umum dan menuju ke hal-hal yang bersifat khusus.
e.    Tahap 5. Akurasi siswa sudah mulai menyadari pentingnya ketepatan prinsip-prinsip dasar yamg melandasi suatu pembuktian.
d.    Teori Belajar Mengajar Matematika Gagne
Gagne mengidentifikasi lima kategori belajar, yaitu:
1.    Informasi verbal (verbal information)
2.    Keterampilan intelektual (intellectual skills)
3.    Strategi kognitif (cognitive strategies)
4.    Sikap (attitudes)
5.    Keterampilan motorik (motor skills) (Gagne, 1-4).

2.    Informasi verbal yang dimaksudkan adalah menguraikan materi yang telah dipelajari sebelumnya seperti fakta, konsep, prinsip, dan prosedur.
3.    Keterampilan intelektual yang dimaksudkan adalah diskriminasi, konsep konkrit, konsep terdefinisi, aturan-aturan, dan aturan-aturan yang lebih tinggi. Diskriminasi, misalnya membedakan objek, ciri-ciri, atau simbol. Konsep konkrit, misalnya mengidentifikasi kelas-kelas objek konkrit, ciri-ciri, atau kejadian. Konsep terdefinisi misalnya mengklasifikasi contoh kejadian baru atau ide dengan definisi siswa. Aturan-aturan misalnya menerapkan suatu hubungan tunggal untuk menyelesaikan suatu kelompok masalah. Aturan-aturan tingkat tinggi misalnya menerapkan kombinasi beberapa aturan untuk menyelesaikan suatu masalah yang kompleks.
4.    Strategi kognitif dimaksudkan adalah memanfaatkan cara sendiri sebagai pedoman untuk belajar, berpikir, bertindak, dan merasakan.
5.    Sikap digunakan untuk menentukan tindakan pribadi berdasarkan pada pengetahuan internal yang dipahami dan dirasakan.
6.    Keterampilan motorik yaitu melakukan pekerjaan disertai penggunaan otot (Gagne, 1-2).
Menurut Gagne, belajar dapat dikelompokkan ke dalam 8 tipe belajar, yaitu belajar isyarat, stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan, dan pemecahan masalah (Suherman, 2001: 36; Ruseffendi, 2006: 165). Kedelapan tipe belajar itu terurut menurut tingkat kesukarannya dari yang mudah ke yang paling sulit. Jadi belajar dengan pemecahan masalah adalah tipe belajar yang paling sulit.
Belajar yang tingkatnya paling rendah, karena tidak ada niat atau rencana dan terjadi secara spontan adalah belajar isyarat. Misalnya menyenangi atau menghindari pelajaran akibat perilaku guru. Jika belajar tersebut ada niat dari dalam hati dan direspons oleh jasmani maka disebut stimulus-respons. Misalnya ketika guru menulis di papan tulis, siswa mencatat. Rangkaian gerak adalah perbuatan jasmaniah terurut dari dua kegiatan atau lebih dalam rangka stimulus-respons.
Sebagai tipe belajar yang paling kompleks, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan dalam pemecahan masalah. Ruseffendi (2006: 169) dan Suherman (2001: 36) menyatakan bahwa dalam pemecahan masalah biasanya ada lima langkah yang harus dilakukan, yaitu:
1.    Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas;
2.    Menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih operasional;
3.    Menyusun hipotesis-hipotesis alternatif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik;
4.    Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya;
5.    Memeriksa kembali hasil yang sudah diperoleh.
 

BAB III PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian teori belajar mengajar di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam belajar matematika guru dapat memulai pengajaran dengan memperoleh perhatian siswa, kemudian menyampaikan tujuan, mengingatkan materi yang telah dipelajari, memberikan stimulus, menyediakan bimbingan belajar, memperlihatkan penampilan, memberikan umpan balik, evaluasi, dan meningkatkan retensi serta melancarkan transfer belajar.


III.2 Saran



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar